Dalam Sebuah Harapan
Mentari bersinar begitu terik,
burung-burung berkicau seolah menyambut kedatanganku. Ya, inilah kepulanganku
setelah sekian lama berada di Rumah Sakit karena penyakit yang di derita
olehku. Dan inilah yang aku rindukan, berada di rumah sederhana yang penuh
cinta bersama Abi dan Ummi yang begitu menyayangi dan memperhatikanku. Abi dan
Ummi-lah yang setia menemaniku selama kurang lebih 2 minggu berada di Rumah
Sakit.
Aku Salma Ainiyah, ‘Aini’
begitu panggilan sayang Abi dan Ummi serta sahabat-sahabat kepadaku. Aku kini
duduk di bangku kelas XII SMA, yang sebentar lagi akan melaksanakan ujian akhir
untuk kelulusan sekolah. Sahabat-sahabat di sekolahku begitu menyayangiku.
Entah kenapa.. tapi yang kurasakan seperti itu.
“Aini, ayo minum obatnya, katanya mau cepat sembuh. Setelah itu
lekas shalat Dzuhur ya sayang!” Suara lembut Ummi mengagetkan lamunanku.
“Iya Ummi, Aini segera minum obatnya.” Jawabku pendek.
Begitulah Ummi, dalam kesibukan apapun ia selalu mengingatkanku
untuk shalat bahkan di waktu malam aku selalu membaca Al-Qur’an bersama Ummi.
Tapi selama di Rumah Sakit kemarin, Ummi-lah yang membacakan Al-Qur’an bersama
Abi dengan fasihnya, sedangkan aku hanya mendengarkan dan terbaring lemah di
kasur.
“Aini, kamu udah
sembuh?” Sapa Rina sahabatku ketika hari pertama aku kembali bersekolah.
“Iya Alhamdulillah, Rin.” Jawabku sambil melontarkan senyum.
“Wah, syukur kalau begitu. Oh ya, Aflah nanyain kamu terus tuh.”
Ucapnya.
Aku diam dan hanya membalas dengan senyuman.
Aflah adalah teman baikku, ‘Aflah Fauzan’ nama lengkapnya. Kami
kenal dari pertama kali masuk sekolah, kami akrab karena kami memang teman
dekat dikelas. Hingga pada suatu saat, Aflah mengungkapkan rasa sukanya
kepadaku, tapi aku tak bisa menerimanya karena kurasa ia bisa mendapatkan
seseorang yang lebih baik dariku.
Bel istirahat pun
berbunyi, segera aku merapikan buku dan bergegas pergi ke Masjid untuk
melaksanakan shalat Dhuha. “Kalau Aini ingin semakin disayang dan di tambahkan
rezkinya oleh Allah, sempatkan shalat Dhuha ya sayang!”. Begitulah pesan Ummi
yang selalu ku ingat ketika bel istirahat berbunyi. Sesampainya di Masjid, aku
segera mengambil air wudhu. Tetesan air wudhu yang membasahiku begitu
menyejukkan hati dan fikiranku. Ku ambil mukena warna biru muda yang tersedia
di sekolahku, kemudian akupun terlarut dalam sujud panjangku.
“Alhamdulillah, tenang rasanya. Setelah ini bisa lebih fokus
belajar lagi deh.” Ucapku menyemangati. Kemudian akupun keluar untuk memakai
sepatu dan kembali kekelas.
“Aini…” Panggil seseorang yang suaranya sudah tak asing lagi
bagiku. Dan memang benar, itu adalah suara Aflah yang berada tak jauh dariku.
Entah sejak kapan dia disini, tapi yang kulihat ia sedang mengikatkan tali
sepatunya. Sepertinya ia pun baru selesai melaksanakan shalat, karena ia
termasuk anak yang rajin beribadah.
“Iya, kenapa Aflah?” Tanyaku pelan.
“Senang bisa melihat kamu sudah bisa masuk sekolah lagi.
Semangat selalu ya!” Katanya sambil tersenyum.
“Terimakasih, aku duluan ke kelas ya, Assalamu’alaikum.”
“Iya Aini, Wa’alaikumsalam.” Jawabnya berseri.
Aku segera kembali ke kelas meninggalkan Aflah yang ketika ku
tengok masih duduk dan memandang ke arahku dari sudut Masjid, Ia lalu tersenyum,
dan akupun mambalas dengan senyum. Aku tak mengerti dengan apa yang kurasa, tapi
dalam hatiku terbesit rasa senang ketika bertemu dengan Aflah tadi. Mungkinkah
ini…
“Astaghfirullah, faghfirli yaa Rabbana..” Ucapku memohon ampun
atas apa yang baru saja kurasakan.
Perjalanan pulang
kali ini pun terasa begitu panjang, padahal jarak dari sekolah ke rumah tak
begitu jauh. Dan yang kupikirkan sepanjang perjalanan adalah Aflah yang
tersenyum di sudut Masjid. Setelah beberapa minggu kemudian, kupikir perasaan
itu akan segera hilang, tapi ternyata aku salah. Perasaan itu semakan tumbuh
menjalar dihatiku, perasaan yang baru kali ini aku rasakan. Dan aku tak dapat
memastikannya. Ketika berada di rumah, yang aku lakukan pun sering banyak
melamun. Dan Ummi mengetahui perubahan pada diriku.
“Aini anak Ummi, ada apa kok Ummi perhatikan sekarang ini Aini
sering banyak melamun dan menyendiri. Ada apa anak Ummi yang shalehah?” Tanya
Ummi sambil membelai jilbab ungu pemberian dari abi.
“Tak apa-apa kok Ummi, Aini hanya lagi senang menyendiri, Ummi.”
Jawabku pelan.
Aku tak ingin Ummi khawatir dengan sikapku. Aku mencoba bersikap
biasa dan berharap semuanya kembali normal seperti semula.
Dan akhirnya
ujian sekolah pun tiba. Aku melaksanakan ujian terakhir di sekolahku dengan
penuh semangat. Tiga hari berlalu..
“Alhamdulillah akhirnya selesai juga ujiannya. Mudah-mudahan
hasilnya memuaskan ya Rin.” Ucapku pada Rina.
“Iya Aini, mudah-mudahan. Mmm.. Aini, ini ada surat dari Aflah
untukmu. Tadi di depan kantor ia menitipkan surat ini kepadaku.”
“Surat apa?” Tanyaku heran.
“Entahlah, tapi jangan-jangan surat tagihan utang lagi.”
Candanya
“Rina jahat nih.” Jawabku sambil tersenyum.
“Bercanda kok, surat special sepertinya.” Rina pun mencoba
menggoda.
Aku hanya tersipu malu.
Sesampainya di
rumah, setelah menyapa Ummi dan Abi, segera aku menuju ke kamar untuk beristirahat.
Di malam harinya selepas melaksanakan shalat Isya, kubaca surat dari Aflah yang
tadi Rina berikan padaku. Dan ternyata benar, itu adalah surat ungkapan rasa
suka Aflah kepadaku. Kembali, ia mengatakan bahwa perasaannya tidak pernah
berubah kepadaku, sampai detik ini. Jantungku berdegup kencang, seperti ada
yang menarik ulur teramat cepat. Tapi segera ku atasi. Dengan menarik nafas
panjang dan mengucap Bismillah, akupun menulis balasan surat untuk Aflah.
Teruntuk Aflah…
Sebelumnya aku mengucapkan
terimakasih untuk semua kebaikan dan perhatian yang telah kau beri padaku.
Terimakasih atas hari-hariku yang
penuh harapan denganmu,
terimakasih atas canda tawa dan air
mata yang terlewati denganmu,
terimakasih untuk setiap nasihat
yang kau berikan untukku,
terimakasih atas kata yang terukir
indah,
kau selalu menyemangatiku, hingga
saat ini…
Aku tak tahu harus membalas apa.
Tapi maaf Aflah, untuk kesekian kalinya aku tak bisa menerimanya. Bukan karena
aku membenci, tapi itu semua teramat berat untukku. Kamu bisa mendapatkan yang
lebih baik dariku untuk jadi calon mahrom bahkan Ummi dari anak-anakmu kelak.
Aku tak sempurna… sakit yang
kuderita telah mengembalikan rahimku pada-Nya, kelak aku tak akan bisa melahirkan
anak-anak yang shaleh serta shalehah, dan mungkin tak akan ada yang memanggilku
‘Ummi’. Tapi ku tahu itu semua tak lain karena Allah teramat sayang padaku dan
Ia punya rencana yang lebih indah. Maaf, aku baru memberitahumu sekarang. Aku takut
kamu kecewa. Maka dari itu, mungkin Allah belum mengizinkan kita untuk bersatu.
Dan memang kita akan berpisah, karena setelah kelulusan, aku akan pindah rumah.
Tapi kamu harus percaya, jika yang telah dituliskan di Lauh Mahfudz adalah
diriku.. percayalah, saat itupun akan tiba.
Salam
santun,
Salma
Ainiyah
Tak terasa air
matapun menetes di pipiku, segera kurapikan dan kulipat surat untuk Aflah yang
akan kutitipkan esok pada Rina. Akupun bergegas memejamkan mata, dan dalam
sebuah harapan serta do’aku malam ini memohon agar apapun yang akan terjadi
padaku dan Aflah kelak, semoga Allah memberikan yang terbaik untukku dan
untuknya.
_Kupu-Kupu Dakwah
(22 Mei 2012)
Komentar
Posting Komentar