Jilbab untuk Bunga Syurga
Seperti bunga yang bersemi. Ya.. aku
adalah seorang wanita biasa yang baru mengenal indahnya menjadi seorang wanita
muslim. Setahun yang lalu, dengan segala kemantapan diri dan hati, aku
membulatkan takad untuk menjadi Mu’alaf. Dulunya aku seorang atheisme. Tak ada
pegangan hidup, tak ada arah dan tujuan kemana aku harus melangkah, hiduppun
seakan berada dipadang yang tandus dengan rasa dahaga yang tak bertepi. Tapi
Alhamdulillah, setelah aku bertemu dengan seorang lelaki yang mungkin
satu-satunya orang yang peduli kepadaku saat itu, hidupkupun berubah.
“Indra Azzam” itulah nama yang kini
telah merubah hidupku ke arah yang lebih terarah, mengenalkan aku tentang Islam
sebagai agama yang Haq yang kini mulai aku cintai.
“Mbak
Zahra, kita shalat Ashar berjama’ah yuk mbak !” ajak Fatimah yang tak kusadar
sedari tadi berada disampingku. Ya, namaku Siti Zahra, itu adalah nama hijrah
pemberian Fatimah dan Azzam untukku, dulunya namaku adalah Clara Zeze. Fatimah adalah
adik dari mas Azzam. Aku kini tinggal dengannya untuk mempelajari Islam yang
mungkin sangat awam bagiku. Ia seorang ustadzah muda bagiku, ia juga aktif
untuk menyampaikan dakwah Islam di kampusnya.
“Iya Fatimah, mari kita ambil
wudhu.” Ucapku
Kami berdua kemudian shalat Ashar
berjama’ah. Selepas shalat , akupun mengambil Al-Qur’an untuk membacanya dengan
bimbingan Fatimah. Dengan begitu sabar, Fatimah mengajarkanku mengenal dan
membaca ayat-ayat Allah sedikit demi sedikit. Suaranya yang lembut membuat
hatiku bergetar kala ia membaca ayat-ayat Allah.
“Alhamdulillah, sekarang mbak Zahra
udah semakin lancar membaca Al-Qur’an-nya.” Ucap gadis cantik yang sangat
penyayang ini.
“Ini semua kan karena bimbingan
Fatimah. Tanpa bimbingan dari Fatimah, mbak mungkin tak tahu apa-apa. Semoga
Allah panjangkan umurmu wahai ustadzah shalehah.” Ucapku.
“Aamiin
yaa Rabbi.. mbak Zahra ini bisa saja, aku belum pantas dipanggil ustadzah toh
mbak. Ilmuku masih tak seberapa.” Jawabnya merendah.
“Tapi
Fatimah tetap menjadi seorang ustadzah dan tauladan bagi mbak, ustadzah cantik
pula.” Kataku memuji. Ia hanya tersenyum dengan amat manis.
Kemudian kami berdua hanyut dalam
pembicaraan mengenai Islam, sampai aku memberanikan diri untuk bertanya
mengenai jilbab, karena aku belum bisa mengenakan jilbab sampai sekarang
walaupun Fatimah sering memintaku untuk
itu.
“Mmm..
Fatimah..” Ucapku ragu-ragu
“Kenapa
mbak?” Tanya Fatimah heran
“Mmm..
mbak terlambat nggak kalau mau mengenakan jilbab?”
“Subhanallah,
mbak Zahra mau mengenakan jilbab? Gak ada kata terlambat untuk melakukan
perubahan dan kebaikan. Mari kenakan hijab itu, mbak !” Jawabnya dengan begitu
semangat.
“Iya
Fatimah, mbak kini sudah mantap untuk mengenakan jilbab. Dan mulai saat ini,
Insya Allah mbak akan istiqomah mengenakan jilbab.” ucapku dengan penuh
keyakinan.
Malam harinya, setelah melaksanakan
shalat Isya, Fatimah menghampiriku yang tengah merapikan jilbab yang kukenakan.
“Subhanallah,
mbak Zahra tambah cantik dengan jilbab. Oya mbak Zahra, Fatimah ingin bicara.”
Katanya dengan lembut
“Kenapa
Fatimah? Silakan bicaralah sayang, tak biasanya Fatimah seperti ini.” Tanyaku
heran
“Fatimah
ingin menyampaikan amanah, mbak. Tadi mas Azzam telpon Fatimah, menanyakan
perkembangan mbak Zahra, Ima bilang mbak sudah mengenakan jilbab sekarang. Dan
subhanallah, mas Azzam sangat senang mendengarnya. Dan…..” Iapun berhenti
berbicara
“Dan
apa Fatimah?” Akupun semakin heran, sedangkan Fatimah hanya tersenyum. Iapun
melanjutkan kembali pembicaraan
“Dan
ini saatnya, Fatimah menyampaikan ini untuk mbak Zahra, setelah menunggu sekian
lama kiranya.”
Fatimah
memberikan sebuah kotak berwarna biru muda yang sedikit usang, mungkin karena
terlalu lama disimpan. Akupun penasaran untuk membuka kotak tersebut. Dan
akupun segera membukanya. Sebuah jilbab berwarna putih tersimpan rapi
didalamya. “cantik” gumamku dalah hati. Belum usai, ternyata disana tersimpan
pula sebuah kotak suara. Kemudian kuambil dan kunyalakan…
“Assalamu’alaikum Zahra…”
Masya
Allah, suaranya kukenal. Ya, itu suara mas Azzam, suara yang aku rindukan.
“Semoga
engkau dalam keadaan baik, semoga iman dan Islam-mu senantiasa Allah Ridhoi.
Sebelumnya
aku mau minta maaf..
Setelah
keIslamanmu kau mantapkan dalam hati dan kau ucapkan dengan lisan. Aku sangat bersyukur
dengan semua itu..
Tapi maafkan
aku, karena setelah itu, aku langsung pergi berkelana mencari ilmu. Sedangkan
kau aku titipkan kepada adikku, Fatimah..
Zahra.. aku
menitipakn kotak ini kepada Fatimah sehari sebelum aku berangkat ke Khairo,
Mesir. Dengan harapan kau sudah mengenakan jilbab..
Dan inilah
saatnya….
Dengan
mengharap Ridho Allah.. jika kamu berkenan,
Tunggu aku
diperbatasan waktu untuk sama-sama mengejar syurga Allah..
Aku tak tahu
sampai kapan aku disini
Aku mungkin
harus mencari ilmu dengan waktu yang lama
Aku harap..
jika kamu bersedia, kamu bisa bersabar menungguku
Andai kau tak
ingin, aku ralakan.. itu semua adalah pilihanmu..
Semoga kelak
Allah pertemukan kita kembali
Jika kita
tak bertemu disini,,
Semoga Allah
pertemukan kita di syurga
Dan kau
tersenyum disana..
Bagaikan
bunga syurga yang Allah jaga keindahannya..
Yang hanya
permatalah yang bisa melihatnya,,
Salam Rindu,
wahai Siti Zahra..
Akupun menangis bahagia mendengar
semua itu. Kemudian aku mantapkan hati dan berkata kepada Fatimah.
“Fatimah..
sampaikan pada mas Azzam, bahwa aku bersedia. Tak peduli berapa lama aku harus
menunggu. Aku hanya berharap, jika aku kelak menjadi bunga syurga, itu karena
tekadlah yang menanam dan menjaganya.”
“Subhanallah
walhamdulillah.. Akan segera Ima sampaikan pada mas Azzam. Semoga Allah
senantiasa menjaga jilbab untuk bunga syurga hingga kalian bertemu indah pada
waktunya.” Ucap Fatimah penuh syukur.
Kamipun
terlarut dalam tangis bahagia.
(Kupu-Kupu Dakwah)
_16 Agustus 2012
_16 Agustus 2012
Komentar
Posting Komentar