Jendela Perjalanan
“Perjalanan
adalah hal yang membosankan!”
Ungkap
seorang gadis suatu ketika
**
Dia
adalah seorang gadis yang baru saja tumbuh menjadi gadis remaja. Masa dimana
kebebasanlah yang menjadi prinsip utama. Dia sudah tak mau di atur ini dan itu
oleh sang ibundanya. Begitupun dengan tempat sekolahnya, dia mencoba menentukan
sendiri apa yang menjadi prinsip dan kemauannya itu. Menentukan kemana dia akan
melanjutkan sekolah. Dengan pilihannya.
Ya,
gadis remaja itu sekarang mulai memasuki masa SMA. Sekolah tempat dia menuntut
ilmu, kini jauh dari tempat dia tinggal. Lebih dari 20 km jaraknya. Jarak
terjauh yang pernah dia tempuh untuk bersekolah. Sebab tempat dia bersekolah
sebelumnya tak jauh dari tempat tinggalnya. Bahkan dari gerbang sekolahpun, atap
rumahnya dapat terlihat.
Tapi
ini pilihannya. Memilih melanjutkan SMA dengan pilihannya sendiri. Walau ada
SMA yang lumayan dekat dari tempat dia tinggal. Mungkin hanya berjarak 5-8 km.
Tapi, pilihannya tak bisa diganggu gugat. Dia tetap ‘keukeuh’ tak mau ke SMA yang lain dengan alasan SMA yang dia pilih
adalah SMA terbaik di kotanya saat itu. Orang tuanya pun pasrah mengikuti
kemauan gadis ciliknya yang mulai beranjak remaja itu.
**
Seiring
berjalanannya waktu. Gadis itu mulai mengeluh dengan segala aktivitas barunya.
Dia mulai merasakan bahwa aktivitasnya saat ini sangat melelahkan. Mulai dari
aktivitas belajar, ekstrakulikuler, dan organisasi. Dia sendiri termasuk siswa
yang aktif dalam organisasi dan kegiatan sekolah lainnya. Sehingga mau tidak
mau di harus merelakan waktu pulangnya menjadi semakin sore bahkan malam.
**
Dia
mulai jenuh dengan apa yang dia lakukan. Satu hal yang paling dia keluhkan adalah,
jauhnya perjalanan dari rumah ke sekolah yang memakan waktu hampir 45 menit
dalam sekali perjalanan. Ditambah lagi dengan suasana dalam perjalanan yang
dipenuhi dengan teriakan-teriakan sang sopir kala mencari penumpang,
dentuman-dentuman suara klakson yang terkadang sangat mengganggu telinga.
Hingga suara pengamen yang hanya ditemani tepukan tangan. Dia bosan. Bakhan
lelah melihat semua kehidupan dalam perjalanan.
Meskipun
begitu, dia tak pernah bercerita kepada siapapun tentang hal ini. Dia selalu
mencoba bersikap biasa di hadapan orang lain. Sering sekali teman-temanya
bertanya “Kok kamu mau sih, naik mobil selama itu? Kan bosen tau!” ledek
teman-temannya. “Ya mau gimana lagi, orang rumahnya emang jauh.” Jawabnya
datar. Meskipun dalam hatinya dia pun meng-iya-kan apa yang di ungkapkan
temannya itu.
Diapun
jenuh. Sangat jenuh.
Hingga
suatu ketika. Hujan turun ketika dia dalam perjalanan pulang selepas kegiatan
ekskul. Sore menjelang malam. Rinai suara hujan di temani suguhan lagu dari
sang pengamen jalanan menjadi satu padu bagai sebuah harmoni. Dia menatap ke
arah jendela sembari memperhatikan tiap rintik hujan yang jatuh membasahi kulit
jalanan yang kasar dan berdebu. Seolah menawarkan kesejukan pada setiap yang
dijumpai. Setelah sekian lama, dia baru merasakan syahdunya perjalanan. Betapa
yang selama ini dia tuduhkan adalah tak semuanya benar.
Kini
dia menyadari. Bahwa kita tak akan pernah merasakan nikmat suatu perjalanan,
jika kita tidak mau membuka telinga dan menatap ke arah jendela. Memperhatikan
setiap detail yang terjadi. Menghirup udara dari setiap celah kaca jendela.
Dan
itulah sebabnya. Kini. Jendela adalah tempat teristimewanya dalam perjalanan.
***
Depok,
9 November 2015

Komentar
Posting Komentar