Pejalanan adalah Kisah




Aku tak pernah mengerti atas apa yang aku rasakan saat ini. Aku sedih, tapi bahagia. Aku bahagia, tapi sedih. Kamu.. semua karenamu.
            Entah mengapa sosok ini selalu hadir di waktu yang ‘tepat’. Selalu saja ada hal yang tidak bisa aku lupakan tentangmu. Kamu adalah sosok 'ajaib' yang pernah Allah kirimkan untukku.
**
            Ya.. Aku kecil adalah sosok yang sangat ceria dan penuh tanya. Aku mencintai masa kecilku. Mencintai bagaimana kedua orang tuaku mendidikku. Lembut dan penuh kasih sayang. Aku mencintai segala tentang mereka.
            Suatu saat, entah dari sudut mana. Kamu datang. Menggantikan mereka di hatiku. Aku tak tahu pasti dari arah mana kamu datang. Yang ku tahu, kamu adalah sosok yang selalu ada saat aku beranjak remaja. Kamu baik dengan kebaikanmu. Kamu tulus dengan ketulusanmu. Hingga akhirnya, aku jatuh hati padamu. Begitupun kamu. Mungkin jauh sebelum aku.
            Tahukan wahai kamu? Kamu adalah sosok “teman” pertama yang pernah aku ceritakan kepada orang tuaku. Sampai saat ini. Entah mengapa aku merasa begitu mudah menceritakanmu. Bukan karena kamu sosok yang aku sukai. Melainkan kamu adalah sosok yang menyukai kedua orang tuamu. Ya.. Kamu sangat mencintaimu kedua orang tuamu. Terutama ibumu. Oh ya, bagaimana kabar Ibumu? Semoga selalu sehat ya.
**
            Cinta Allah begitu luar biasa. Setelah sekian lama aku mengenalmu, aku semakin mengagumimu. Tapi Allah begitu cemburu. Hingga akhirnya Allah mengetuk pintu hatiku. Lembut. Sangat lembut. Hingga aku tersadarkan bahwa cinta-Nya sangat luar biasa. Cinta-Nya mampu menggugurkan bunga yang tengah merekah. Sekaligus mampu merekahkan bunga yang gugur sekalipun. Dan untukku, Allah pilihkan yang pertama.
            Benar memang. Waktu adalah jendela terbaik untuk perjalanan sebuah takdir. Setiap melangkah, selalu saja ada hati yang berserakan. Aku selalu berusaha merapikan serpihan-serpihan hati yang berserakan itu. Namun ketika dirapikan, kamu selalu berhasil mengukir nama di potongan puzzle hati itu. Entah menggunakan pena seperti apa. Hingga namamu tak pernah terhapus. Ajaib memang. Tapi itulah yang terjadi. Meski terkadang aku harus bekerja keras untuk menyusun ulang serpihan hati itu, hingga menjelma menjadi puzzle yang baru. Tapi pada akhirnya, aku selalu berharap padamu.
            Dan benar memang, jika kau meletakkan harapan kepada manusia, maka kau harus siap untuk kecewa. Dan itulah yang terjadi padaku saat ini. Padamu. Karena ternyata, yang menata hati hanyalah aku seorang. Menyediakan ruang kosong untuk diisi. Tapi, kamu memilih memenuhi ruang kosong yang lain. Hingga akhirnya, menunggu hanyalah ketiadaan. Sebab jalan yang kamu pilih telah berbeda.
**
Ya.. hidup adalah tentang belajar. Belajar ikhlas walaupun menyakitkan. Belajar tersenyum walau bulir-bulir bening itu sudah memenuhi peristirahatannya. Dan aku sedang belajar itu. Bukan darimu. Tapi dari-Nya. Bukan karenamu. Melainkan karena-Nya. Karena kamu hanyalah sebagian kecil dari perjalanan kisahku. 


Dan aku tak pernah tahu takdir apa yang akan Allah berikan padaku dan padamu kelak. Aku hanya berusaha berbaik sangka kepada-Nya.

***


Depok, 4 November 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Hijrah Name “Huwaida Haibah Ainiyah”

Jangan katakan Daun tak akan Berguguran (kembali)

Muslimah Itu Anugerah