Ada apa dengan Pacaran?


Kalau mendengar kata ‘pacaran’ mungkin bukan lagi sesuatu hal yang asing bagi kita, kata itu mungkin sudah ‘akrab’ banget didengar ditelinga kita sekarang ini, mulai dari zaman abege sampai menuju tahap dewasa seperti sekarang (ciee yang udah mau masuk usia dewasa, mana bekalnya? *gubrakk :))

Ya benar, pacaran itu sudah ‘menjelma’ menjadi sesuatu hal yang biasa dan bahkan dianggap wajar-wajar saja, mengkhawatirkan memang. Banyak kita lihat sekarang ini anak-anak muda, bahkan anak-anak yang masih duduk dibangku sekolah dasar maupun mereka yang sudah masuk usia dewasa yang tentunya belum menikah lebih memilih pacaran untuk alasan yang tidak rasional, mereka bilang pacaran untuk menambah semangat, biar ada yang merhatiin, dan bahkan untuk memilih calon istri/suami yang tepat dan berjuta alasan-alasan yang lainnya. Tapi kenapa harus dengan cara pacaran ya? Saya tidak mengerti (apa saya saja ya yang tidak mengerti? *tanya diri sendiri), tapi saya rasa tidak. Karena saya yakin diluar sana masih banyak orang yang sepemikiran dan sependapat dengan saya, serta peduli terhadap kelangsungan hidup pemuda penerus bangsa untuk tidak terjangkit virus yang sudah merajalela ini (apa banget ya bahasanya, hehe).

Dalam Islam sendiri pacaran itu dibolehkan gak sih?
Sebelum saya mengatakan boleh atau tidak, semoga ayat dibawah ini dapat memberikan sedikit pencerahan bagi kita semua.


Artinya : "Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk." (Q.S. Al-Isra’ : 32)
Bagaimana sudah ada pencerahan?  Masih belum?  Masa sih? Yo wis ndak papa, tetap baca sampai selesai ya *senyum manis
Dari teman-teman semua mungkin masih ada yang berkata dalam hati, “saya kan pacaran tidak berzina, jadi apa salahnya kalau saya pacaran?”
Sahabatku tersayang, dalam ayat tersebut Allah menegaskan ‘janganlah kamu mendekati zina’, bukan ‘janganlah kamu berbuat zina’. Pacaran dilihat dari segi manapun tetap saja ada unsur mendekati zinanya, baik itu zina mata, hati, tangan, telinga dan lainnya. Zina mata atau pandangan contohnya, Allah memerintahkan agar kita menjaga pandangan kita dari seseorang yang bukan mahrom kita. Nah kalau pacaran, kita malah sebaliknya kan? Sering mandangin wajah sang pujaan, sampai tidak ngedip (gak kelilipan apa ya, hihi). Nah dari sana juga sudah termasuk zina. Jadi sudah terlihat kan kalau pacaran itu banyak banget perbuatan zina yang tidak disadari. Na’udzubillaahimindzalik.
So, #udahputusinaja, *ehh, kok malah promosi? hehe

Hmm apakah masih ada yang bergumam dalam hati, berargumen dengan tegas “tapi saya kan pacaran secara Islami, sering mengingatkan dalam kebaikan, membangunkan kala sepertiga malam menghampiri, mengingatkan untuk berpuasa sunnah, pergi ke majelis ilmu, pokoknya pacaran secara Islami deh.”
Nah loh, memang ada ya mbak pacaran secara Islami? *tanya ramah
Begini sahabatku tersayang, kalau memang benar begitu adanya, kalian sering mengingatkan dalam kebaikan, sering membangunkan kala sepertiga malam dan lain sebagainya. Pertanyaannya adalah, “Apakah benar yang kamu lakukan itu semua karena  niat ibadah, mendekatkan diri kepada Allah SWT dan ingin menjadi pribadi yang lebih baik semata?”. Mungkin ada niat seperti itu, tapi saya rasa sebagian besar niatnya adalah karena dia, bukan karena Dia. Kamu ingin dipandang baik oleh dia, tapi kamu melupakan ingin dipandang baik oleh-Nya. Bisa jadi kamu terbangun disepertiga malam karena teringat janji akan membangunkan dia untuk Qiyamul lail bukan karena niat ibadah awalnya, terus nanti dalam do’amu pun yang banyak diingat ya ‘dianya’ itu. (Hayo benar ga :))
Sahabatku tercinta, walau bagaimanapun juga segala sesuatu yang tidak Allah ridhoi walaupun ditambahkan dengan embel-embel secara Islami, tetap saja tidak Allah ridhoi. Kita ambil contoh ya, kalau memang benar ada ‘pacaran secara Islami’, berarti ada ‘mencuri secara Islami’ juga dong? Mencuri tetap perbuatan yang dilarang kan walaupun secara Islami? (gimana caranya ya? hihi), nah oleh karena itu dapat disimpulkan sendiri oleh teman-teman kalau pacaran secara Islami itu ada atau tidak ada.

Sampai sini, bagaimana sahabatku sudah dapat pencerahan? Semoga Allah meberikan pencerahan bagi kita semua. Aamiin
Nah mungkin masih ada yang bertanya, “Kenapa sih saya peduli tentang hal pacaran?”
Tahukah wahai sahabat, mengapa saya peduli untuk mengingtakan hal ini, jawabannya adalah “karena saya sayang kepada sahabat semua”.
Saya mengingatkan karena saya pun pernah mengalami masa-masa jahiliyah itu, tidak tahu hukum pacaran dalam Islam, dan tidak ada yang mengingatkan dikala itu. Nah oleh sebab itu, saya merasa saya harus menyampaikan atau berbagi apa yang saya ketahui, walaupun hanya satu ayat. Saya tidak ingin, sahabat terlena terlalu dalam, terbawa arus terlalu jauh dengan pacaran tersebut. Saya menyampaiakan hal ini bukan karena saya merasa saya sudah benar, sama sekali tidak. Saya menyampaikan hal ini untuk saling mengingatkan dalam kebaikan, mengingatkan diri saya sendiri khususnya. Karena saya pun masih banyak kekurangan.
Oleh karena itu, jika ada diantara sahabat semua yang saat ini masih pacaran, semoga dapat dipikirkan kembali mengenai baik buruknya ya. Pun jika ada yang pacaran karena akan memilih dia untuk jadi calon suami/istri, lebih baik dari sekarang datangi deh orang tua atau wali wanita tersebut atau minta pihak laki-laki untuk mendatangi orang tua agar segera mengkhitbah (nah loh ujung-ujungnya kesana ^^). Ya memang benar, apalagi yang ditunggu jika antum antuna sudah siap dalam segala hal. Menikah menjadi jalan yang terbaik agar diri ini terpelihara. Insya Allah.
Afwan jika saya terlalu peduli kepada sahabat semua. Tidak ada maksud lain, hanya saja karena saya terlalu sayang. Sahabat, ambil yang baik dari apa yang saya tuliskan ya, yang buruknya semoga jadi koreksi untuk saya. Karena semua kebaikan datangnya dari Allah, dan apa-apa yang buruk itu datang dari diri saya pribadi.
Semoga Allah senantiasa menjaga diri dan hati kita. Aamiin yaa Rabbal’alamin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Hijrah Name “Huwaida Haibah Ainiyah”

Jangan katakan Daun tak akan Berguguran (kembali)

Muslimah Itu Anugerah