Ada apa dengan Pacaran?
Ya benar, pacaran itu sudah ‘menjelma’ menjadi sesuatu hal yang
biasa dan bahkan dianggap wajar-wajar saja, mengkhawatirkan memang. Banyak kita
lihat sekarang ini anak-anak muda, bahkan anak-anak yang masih duduk dibangku
sekolah dasar maupun mereka yang sudah masuk usia dewasa yang tentunya belum
menikah lebih memilih pacaran untuk alasan yang tidak rasional, mereka bilang
pacaran untuk menambah semangat, biar ada yang merhatiin, dan bahkan untuk
memilih calon istri/suami yang tepat dan berjuta alasan-alasan yang lainnya.
Tapi kenapa harus dengan cara pacaran ya? Saya tidak mengerti (apa saya saja ya
yang tidak mengerti? *tanya diri sendiri), tapi saya rasa tidak. Karena saya
yakin diluar sana masih banyak orang yang sepemikiran dan sependapat dengan
saya, serta peduli terhadap kelangsungan hidup pemuda penerus bangsa untuk
tidak terjangkit virus yang sudah merajalela ini (apa banget ya bahasanya,
hehe).
Dalam Islam sendiri pacaran itu dibolehkan gak
sih?
Sebelum saya mengatakan boleh atau tidak,
semoga ayat dibawah ini dapat memberikan sedikit pencerahan bagi kita semua.
Bagaimana sudah ada pencerahan?
Masih belum? Masa sih? Yo wis
ndak papa, tetap baca sampai selesai ya *senyum manis
Dari teman-teman semua mungkin masih ada yang berkata dalam hati,
“saya kan pacaran tidak berzina, jadi apa salahnya kalau saya pacaran?”
Sahabatku tersayang, dalam ayat tersebut Allah menegaskan
‘janganlah kamu mendekati zina’, bukan ‘janganlah kamu berbuat zina’. Pacaran
dilihat dari segi manapun tetap saja ada unsur mendekati zinanya, baik itu zina
mata, hati, tangan, telinga dan lainnya. Zina mata atau pandangan contohnya,
Allah memerintahkan agar kita menjaga pandangan kita dari seseorang yang bukan
mahrom kita. Nah kalau pacaran, kita malah sebaliknya kan? Sering mandangin
wajah sang pujaan, sampai tidak ngedip (gak kelilipan apa ya, hihi). Nah dari
sana juga sudah termasuk zina. Jadi sudah terlihat kan kalau pacaran itu banyak
banget perbuatan zina yang tidak disadari. Na’udzubillaahimindzalik.
So, #udahputusinaja, *ehh, kok malah promosi? hehe
Hmm apakah masih ada yang bergumam dalam hati, berargumen dengan
tegas “tapi saya kan pacaran secara Islami, sering mengingatkan dalam kebaikan,
membangunkan kala sepertiga malam menghampiri, mengingatkan untuk berpuasa sunnah,
pergi ke majelis ilmu, pokoknya pacaran secara Islami deh.”
Nah loh, memang ada ya mbak pacaran secara Islami? *tanya ramah
Begini sahabatku tersayang, kalau memang benar begitu adanya,
kalian sering mengingatkan dalam kebaikan, sering membangunkan kala sepertiga
malam dan lain sebagainya. Pertanyaannya adalah, “Apakah benar yang kamu
lakukan itu semua karena niat ibadah, mendekatkan
diri kepada Allah SWT dan ingin menjadi pribadi yang lebih baik semata?”. Mungkin
ada niat seperti itu, tapi saya rasa sebagian besar niatnya adalah karena dia,
bukan karena Dia. Kamu ingin dipandang baik oleh dia, tapi kamu melupakan ingin
dipandang baik oleh-Nya. Bisa jadi kamu terbangun disepertiga malam karena teringat
janji akan membangunkan dia untuk Qiyamul lail bukan karena niat ibadah
awalnya, terus nanti dalam do’amu pun yang banyak diingat ya ‘dianya’ itu.
(Hayo benar ga :))
Sahabatku tercinta, walau bagaimanapun juga segala sesuatu yang
tidak Allah ridhoi walaupun ditambahkan dengan embel-embel secara Islami, tetap
saja tidak Allah ridhoi. Kita ambil contoh ya, kalau memang benar ada ‘pacaran
secara Islami’, berarti ada ‘mencuri secara Islami’ juga dong? Mencuri tetap
perbuatan yang dilarang kan walaupun secara Islami? (gimana caranya ya? hihi),
nah oleh karena itu dapat disimpulkan sendiri oleh teman-teman kalau pacaran
secara Islami itu ada atau tidak ada.
Sampai sini, bagaimana sahabatku sudah dapat
pencerahan? Semoga Allah meberikan pencerahan
bagi kita semua. Aamiin
Nah mungkin masih ada yang bertanya, “Kenapa sih saya peduli
tentang hal pacaran?”
Tahukah wahai sahabat, mengapa saya peduli untuk mengingtakan hal
ini, jawabannya adalah “karena saya sayang kepada sahabat semua”.
Saya mengingatkan karena saya pun pernah mengalami masa-masa
jahiliyah itu, tidak tahu hukum pacaran dalam Islam, dan tidak ada yang
mengingatkan dikala itu. Nah oleh sebab itu, saya merasa saya harus
menyampaikan atau berbagi apa yang saya ketahui, walaupun hanya satu ayat. Saya
tidak ingin, sahabat terlena terlalu dalam, terbawa arus terlalu jauh dengan
pacaran tersebut. Saya menyampaiakan hal ini bukan karena saya merasa saya
sudah benar, sama sekali tidak. Saya menyampaikan hal ini untuk saling
mengingatkan dalam kebaikan, mengingatkan diri saya sendiri khususnya. Karena
saya pun masih banyak kekurangan.
Oleh karena itu, jika ada diantara sahabat semua yang saat ini
masih pacaran, semoga dapat dipikirkan kembali mengenai baik buruknya ya. Pun
jika ada yang pacaran karena akan memilih dia untuk jadi calon suami/istri,
lebih baik dari sekarang datangi deh orang tua atau wali wanita tersebut atau
minta pihak laki-laki untuk mendatangi orang tua agar segera mengkhitbah (nah
loh ujung-ujungnya kesana ^^). Ya memang benar, apalagi yang ditunggu jika
antum antuna sudah siap dalam segala hal. Menikah menjadi jalan yang terbaik
agar diri ini terpelihara. Insya Allah.
Afwan jika saya terlalu peduli kepada sahabat semua. Tidak ada
maksud lain, hanya saja karena saya terlalu sayang. Sahabat, ambil yang baik
dari apa yang saya tuliskan ya, yang buruknya semoga jadi koreksi untuk saya.
Karena semua kebaikan datangnya dari Allah, dan apa-apa yang buruk itu datang
dari diri saya pribadi.
Semoga Allah senantiasa menjaga diri dan hati kita. Aamiin yaa
Rabbal’alamin.
Komentar
Posting Komentar